Sabtu, 10 Mei 2008

Islam Agama Kemanusiaan

Persoalan kemanusiaan akhir-akhir ini bukan hanya menarik ditonton tetapi juga menarik untuk dibicarakan. Pembicaraan ini dianggap penting mengingat problek perilaku manusia modern memerlukan pemecahan segera. Kadang-kadang menurut Kuntowijoyo (1991) kita merasa bahwa situasi yang penuh problematik di dunia moderna justru disebabkan oleh perkembangan pemikiran manusia sendiri. Di balik kemajuan ilmu dan teknologi, dunia modern sesungguhnya menyimpan suatu potensi yang dapat menghancurkan martabat manusia. Umat manusia telah berhasil mengorganisasikan ekonomi, menata struktur politik serta membangun peradaban maju untuk dirinya sendiri. Tapi pada saat yang sama, kita juga menyaksikan bahwa umat manusia telah menjadi tawanan dari hasil ciptaannya itu.
Sejak manusia memasuki zaman modern, yaitu sejak manusia mampu mengembangkan potensi-potensi rasionalnya, mereka memang telah membebaskan diri dari belenggu pemikiran mistis yang irrasional dan belenggu pemikiran hukum alam yang sangat mengikat kebebasan manusia. Tetapi, ternyata di dunia modern ini manusia tak dapat melepaskan diri dari jenis belenggu lain, yaitu penyembahan pada dirinya sendiri. Inilah yang kemudian menyebabkan seolah-olah orang lain menjadi subordinat dan kurang penting keberadaannya. Dalam kondisi seperti inilah, Islam memiliki peran sangat strategis untuk “menyadarkan” frame salah tentang Islam.
Seandainya dalam teori-teori marxian ditemukan ciri-ciri transformasi sosial yang bukan hanya untuk menafsirkan realitas empiris tetapi sekaligus juga untuk mengubahnya, maka umat Islam juga akan menemukan sebuah ajaran teologi yang berorientasi kepada penyelamatan umat demi sebuah tatanan yang dicitakan yaitu teologi sosial. Islam kata Dawam dapat meredevinisi teori-teori sosialnya sesuai dengan paradigmanya untuk transformasi sosial menuju tatanan masyarakat yang sesuai dengan cita-citanya. Oleh karena itu menjadi sangat jelas bahwa Islam sangat berkepentingan pada realitas sosial, bukan hanya untuk dipahami, tapi juga diubah dan dikendalikan. Tidak Islami misalnya, jika kaum Muslimin bersikap tak acuh terhadap kondisi sesamanya, terlebih menyakiti hingga membunuhunya tanpa dosa.
Untuk mengurut sebuah perilaku solidaritas yang dibangun atas kekerabatan atau persaudaraan yang diinginkan oleh Islam, perlu sebuah perbandingan antara kondisi empiris hubungan antara manusia sebelum Islam dan perkebangan bentuk dan ikatan persaudaraan yang kemudian diinginkan oleh Islam dalam berbagai ajaran normatifnya, Zuhairi Misrawi (2004).
Untuk itu Rafsanjani (2001), secara khusus menggarisbawahi, pada prinsipnya program paling dasar dalam ajaran Islam untuk membangun dunia adalah manusia bertakwa yang bermanfaat bagi masyarakatnya kapanpun dan di manapun. Orang baik dalam masyarakat adalah modal utama bagi kemakmuran hidupannya. Namun, jika yang terjadi sebaliknya, yakni nafsu kebinatangan menguasai manusia, baik yang beragama Islam maupun lainnya, niscaya sulit untuk membangun tatanan berkeadilan dan berkeprikemanusiaan sebagai mana cita-cita al-Quran.
Landasan normatif persaudaraan antarumat manusia ini, biasanya diambil dari ayat al-Quran sendiri. Dari ajaran al-Quran, umat manusia seolah-olah disandarkan pada kenyataan bahwa keragaman dalam suku bangsa adalah sunnah Tuhan yang tidak bisa sipungkiri. Namun di dalam ayat al-Quran juga diterangkan bahwa kenyataan itu bukanlah alasan untuk bermusuh-musuhan, tapi justru untuk saling mengenal dan menjalin persaudaraan. Al-Quran seakan-akan ingin menegaskan bahwa keragaman dan fakta masyarakat yang plural, yang dijumpai manusia bukanlah alasan pembenar untuk saling melenyapkan dan menindas. Justru, dengan keragaman itulah manusia akan banyak memperoleh manfaat yang lebih besar.
Keragaman yang dibangun Tuhan dalam kosmologi kehidupan manusia ini tidak dimaksudkan untuk mensubordinatkan satu sama lain. Perbedaan tidak menunjukan kemuliaan satu di antara yang lainnya. Perbedaan itu juga tidak membedakan pandangan Tuhan atas semuanya. Tuhan melihat semuanya sama dan atas kesamaan itu, Tuhan hanya menginginkan sebuah pengabdian manusia dengan saling menyayangi satu sama lain. Yang membedakan kemudian bukan pada fakta perbedaannya itu sendiri, tetapi upaya manusia dalam membangun kualitas dirinya sendiri. Setiap orang memiliki potensi untuk berilmu dan bertaqwa, tetapi tidak setiap orang dapat melakukannya – kendati Tuhan telah memberikan pentunjuk-Nya kepada manusia.
Upaya untuk membangun manusia yang berkualitas dari sisi ilmu dan ketaqwaan inilah yang kemudian menciptakan derajat diri sehingga mendapat pujian Tuhan. Itulah kenapa Tuhan hanya membedakan manusia dari yang berilmu dan tidak, yang bertaqwa dengan yang tidak, bukan pada konteks perbedaan warna kulit, bahasa, suku bangsa, dan pemahaman keagamaan.
Mengapa mesti ilmu? Ilmu adalah entitas penting dalam peradaban manusia untuk mencapai kemajuan zaman. Ilmulah yang dapat menjadikan manusia menjadi berharga sehingga dapat meningkatkan harkat derajatnya. Dalam komunitas sosial, kita akan menyaksikan secara kasat mata, mana komunitas masyarakat yang berilmu dan yang tidak. Setidaknya dari kualitas hidup dan tingkat kebersahajaannya. Ilmu pula yang kemudian dapat membuktikan berbagai rahasiah Tuhan di bumi ini. Karenanya, al-Quran dalam beberapa ayatnya menyebutkan diturunkan bagi orang yang berilmu, dalam ayat lain disebut bagi orang yang berakal, dan yang lainnya.
Mengapa pula manusia mesti betaqwa? Semakin manusia bertaqwa maka semakin dekat dirinya dengan Tuhan. Semakin dekat dirinya dengan Tuhan, berarti semakin mendekatkan sifatnya dengan sifat-sifat Tuhan. Dalam wacana inilah kemudian penting digaris bawahi bahwa keberadaan manusia di bumi ini sengaja diciptakan tuhan dengan berbagai keragaman, dengan maksud untuk semakin memperluas persaudaraan. Tidak mungkin misalnya orang yang bertaqwa sampai berani melakukan hal-hal negatif yang merugikan orang lain. Tidak ada dalam rumusnya bahwa orang bertaqwa dapat dengan membabi buta menghancurkan tempat ibadah orang lain hanya karena perbedaan paham. Mengapa demikian, sebab perbedaan paham merupakan bentuk keragaman lain yang harus dihormati bukan dibenci dan didolimi.
Kita memiliki sebuah pemahaman, orang lain memiliki pemahaman sendiri, kita menganggap benar dengan apa yang kita pahami dan orang lain juga sama. Persoalannya, pemahaman mana yang paling benar? Itulah persoalan kita. Kita punya dasar hukum, orang lain juga begitu. Karenanya, marilah dalam membangun kebersamaan ini kita saling menyadari bahwa kebenaran yang mutlak itu ada pada-Nya. Kita tidak bisa menghakimi mana yang benar mutlak dan salah mutlak. Hanya Allah yang tahu. Yang penting adalah bagaimana kita taat dalam keyakinan kita, seraya menebarkan rasa cinta untuk membangun persaudaraan di bumi, dalam suasana perbedaan.
Dalam Islam ada sebuah praktek sederhana tetapi sesungguhnya memberi spirit perdamaian mendalam yaitu konsep memberi salam. Dalam QS al-Nisa: 86 dijelaskan: “Apabila kamu diberi penghormatan dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya atau balaslah penghormatan itu dengan yang sama.”

Tidak ada komentar:

KESEIMBANGAN FIKIR, ZIKIR DAN AMAL; CERMINAN MANUSIA IDEAL

"Sesungguhnya dalam terciptanya langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang, semua itu ialah tanda (ayat) bagi orang yang berakal" (ulul albab)

Siapa sesungguhnya manusia? Pertanyaan itu merupakan pertanyaan abadi bagi manusia yang mencari jati dirinya.Dalam mutiara hikmah Arab dinyatakan bahwa man 'arafa nafsahu faqad 'arafa Rabbahu (Barangsiapa mengenal dirinya, maka ia mengetahui Tuhannya), Al-Qur'an pun dengan tegas memperingatkan manusia untuk selalu berfikir, terutama tentang dirinya. 'Wa fī anfusikum afala tubshirūn (dan terhadap dirimu apakah tidak kau selidiki?)

Pertanyaan tersebut sebenarnya sudah berusaha dijawab, namun jawaban-jawaban itu akan terus berkembang karna manusia belum menemukan jawaban seutuhnya, karna manusia adalah makhluk yang multi dimensi. Makhluk yang dapat dikaji dari berbagai segi.

Pembahasan soal manusia seolah tanpa batas, bisa dipahami dari berbagai pendekatan,seperti pendekatan materialisme, idealisme, antropologis, sosiologis, psikologis, teologis dan lain sebagainya.Adapun dalam pendekatan teologis, manusia dipandang menggunakan Al-Qur'an yang membahas manusia secara holistic (menyeluruh) menyangkut berbagai aspek, baik dari materi, tujuan, fungsi penciptaan, pandangan hidup, kebaikan dan keburukan, serta ikhtiar dan takdir manusia.

Manusia diciptakan Allah bukan tanpa tujuan, tanpa ukuran dan bukan sia-sia. Allah menciptakan manusia dengan tujuan agar manusia menjadi khalifah di bumi dan agar menjadi hamba Allah yang mengabdi kepada-Nya.Bumi beserta seluruh isinya diciptakan oleh Allah untuk memenuhi kebutuhan manusia, sebagai rasa kasih sayang Allah.

Sebagai khalifah di bumi berarti manusia melakukan fungsinya mengatur kehidupan dalam berbagai bidang dengan sebaik-baiknya, yaitu dengan mengikuti peraturan-peraturan yang telah digariskan oleh Sang Pemberi Mandat. Jika aturan itu ditaati, maka kehidupan di dunia akan harmonis, sebaliknya jika kehidupan di bumi diatur oleh orang-orang yang mengingkari aturan, maka konflik-konflik akan terus muncul

Disamping itu, manusia sebagai hamba Allah harus menjalankan fungsinya sebagai Abdullah, senantiasa beribadah kepada Allah. Menjalankan ibadah itu bukan hanya di masjid ketika shalat, tetapi melaksanakan segala pekerjaan asal dengan niatan yang tulus tentu dapat dinilai sebagai sebuah ibadah. Segala aktifitas dilakukan dengan niat karena Allah, dengan mengikuti aturan Allah, dengan mencontoh Nabi Muhammad SAW sebagai utusan Allah, dan dipenuhi dengan rasa cinta dan takwa kepada Allah SWT.Walaupun demikian, pada kenyataannya, banyak manusia yang menghambakan diri (menyembah) kepada selain Allah, seperti kepada hawa nafsu, uang, harta, jabatan, status, ilmu, teknologi, atasan dan sebagainya. Mereka mencurahkan dengan sepenuh rasa cinta dan takut kepada selain Allah tersebut, sehingga lupa fungsi kemanusiaannya sebagai hamba Allah.

a. Insan ulul albab; karakter muslim ideal

Ulul albab adalah salah satu karakteristik ideal seorang muslim. Kata itu disebutkan 16 kali dalam al-Qur'an.Ulul albab berasal dari dua kata, yaitu ulu yang berarti memiliki dan al-albab adalah bentuk jamak dari al-lubb, yang artinya otak atau pikiran. Dengan demikian ulul albab berarti orang yang mempunyai otak yang berlapis-lapis sekaligus perasaan yang dalam, atau orang yang memiliki berbagai kualitas.

Surat Ali 'Imran ayat 191 menyebutkan "Yaitu orang-orang yang mengingat-ingat Allah sambil berdiri dan sambil duduk dan sambil berbaring diatas lambung mereka. Dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi. (lalu mengambil kesimpulan): Tuhan kami, Engkau tidak menciptakan itu semua dengan sia-sia. Maha Suci Engkau. Selamatkan kami dari siksa neraka."

Dan dari surat Ali Imran ayat 190:Sesungguhnya, dalam terciptanya langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang, semua itu adalah tanda (ayat) bagi orang yang berakal (ulul albab).

Dalam ayat tersebut, timbul konsep tentang dzikir dan fikir. Ayat ini mengatakan bahwa orang yang mempunyai akal, akan melihat seluruh gejala langit dan bumi yang tercipta sebagai gejala ontologis yang perlu difikirkan.Mereka yang berfikir pasti mengambil I'tibar dari gejala alam dan akan melakukan sesuatu, misalnya membuat saluran irigasi, bendungan untuk mendistribusikan air hujan ke daerah-daerah yang akan ditanami.

Seorang yang mempunyai kualitas ulul albab bisa berkembang menjadi ahli tehnik, botanikus, atau petani biasa yang bisa memanfaatkan sumber daya alam.Tapi tidak berhenti disitu saja, seorang ulul albab akan merenung juga bahwa semua itu mempunyai masa hidup tertentu, lalu akan layu dan kemudian mati. Disini ia akan melakukan transendensi, berfikir lebih jauh tentang hakikat hidup, karena proses berfikir dengan segala derifasinya, teknologi, sains, peradaban dan lain sebagainya, tidak akan bermakna dihadapan Allah kecuali disesuaikan dengan aturan-aturan penggunaannya dalam al-Qur'an yang telah ditetapkan Allah.

Dalam masalah fikir dan dzikir ini keduanya tidak dapat dipisahkan satu dari yang lain. Karena perpaduan antara aspek fikir dan aspek dzikir inilah yang merupakan formasi satu karakter insan ulul albab.Ulul albab tidak hanya berfikir tentang alam fisik dan berdzikir saja, melainkan juga dengan amal konkritnya.

Kepemilikan pengetahuan saja tidaklah cukup untuk membuat seseorang mendapat kualifikasi sebagai ulul albab. Ia juga harus seorang yang punya keterikatan moral, memiliki komitmen sosial dan melaksanakan sesuatu dengan baik.Manusia ideal bukanlah hanya seseorang yang mempunyai kesalehan individual yang berkaitan dengan ibadah mahdhah, yaitu hubungan dia sebagai makhluk dengan Sang Maha Penciptanya. Dengan rajin shalat, puasa dan ibadah ritual lainnya saja. Keberagamaan bukan untuk kepentingan diri sendiri yang egoistik, memikirkan pahala diri sendiri. Namun manusia ideal adalah yang mempunyai kesalehan sosial yang berkaitan dengan ibadah muamalah yang mengatur hubungan makhluk Allah dengan mahluk lainnya. Hal ini terlihat dengan mengaktualisasikan kesalehannya kedalam kehidupan sosial dengan amal konkritnya, mungkin berupa membebaskan masyarakat dari kebodohan dan kemiskinan, menghasilkan kebaikan, perdamaian, keadilan dan tentunya kesejahteraan.

Manusia ideal tidak akan tinggal diam ketika bangsanya ada pada posisi puncak dalam masalah korupsi. Kemiskinan makin terasa dan makin meluas. Hukum tidak ditegakkan. Anak muda makin terseret jauh dalam penggunaan narkotika dan obat-obat berbahaya lainnya. Dia akan mempunyai daya sentuh, daya gugah serta daya ubah terhadap sikap dan perilaku masyarakat yang melenceng.

Dengan demikian, muslim ideal adalah orang yang memiliki misi dan komitmen terhadap perubahan sosial dan memiliki keberanian moral untuk membela dan mempertahankan kebenaran dan keadilan, juga merupakan orang yang mempunyai kepekaan, sikap kritis, dan tanggungjawab sosial untuk bertindak demi kebaikan sesama manusia.

Dengan kemampuan fikirnya, ia selalu mencoba untuk menggali ilmu sedalam-dalamnya. Ia sadar hanya dengan ilmu itulah Allah akan meninggikan derajatnya diantara orang-orang yang beriman. Dengan ditunjang kekuatan dzikirnya kepada Allah, dalam hidup ini ia sadar bahwa tidak pantas baginya sombong dengan ilmu yang dimilikinya, karena semua itu milik Allah.

Selain itu seorang muslim adalah delegasi Allah, yaitu sebagai khalifah-Nya di bumi, untuk mengatur dan menjaga kelestarian alam semesta.Muslim ideal bukanlah orang yang bergantung di atas angin atau tinggal di menara gading. Muslim ideal adalah orang yang sering terdorong untuk mengotori tangannya dengan kegiatan konkrit kemasyarakatan. Dimanapun berada, ia selalu mempergunakan ilmunya dengan berpedoman kepada kebenaran dan keadilan.

Dapatkah kita jumpai orang-orang yang mempunyai kualitas tinggi tersebut?Tentu saja sulit. Tetapi diantara yang sulit tersebut kita temukan tokoh para Rasul dan Nabi, terutama yang disebutkan dalam surat Al-Ahqaf sebagai Ulul azmi; yang memiliki keteguhan hati dan mampu mengambil keputusan dengan segala resiko.

Walaupun demikian, dengan menjalankan syarat-syarat yang telah ditentukan dalam Al-Qur'an itu, maka orang-orang biasapun bisa mencapai kualitas ulul albab. Jika tidak, mengapa kata tersebut disebut dalam Al-Qur'an sebanyak 16 kali, kalau tidak untuk diteladani dan dicapai?

Marilah bersama berlomba-lomba mencapainya……*

Tuhanku, ku ingin menjadi ciri-ciri manusa ideal

Love, keep and guide me, my Allah!!!

kehidupan selanjutnya

kita semua mungkin menyetujui bahwa kehidupan kita sekarang ini adalah sementara dan setelah ini akan ada kemungkinan kehidupan selanjutnya, seperti anggapan budhist bahwa manusia setelah matinya akan terrekarnasi maupun anggapan agama samawi ada kehidupan kekal setelah ini yaitu akhirat.
nah dari kehidupan sementara dan pasti akan menuju kehidupan selanjutnya lah maka kita harus berlaku baik baik untuk kita sendiri orang lain maupun lingkungan sekitarnya

marilah ktia berubah untuk kehidupan selanjutnya ini

penjajahan gaya baru

kita semua tahu bahwa saat ini penjajahan telah dihapuskan dimuka bumi, smenjak perang dunia II berakhir para negara jajahan telah menuntut kemerdekaan nya. katanya sih sekarang udah g ada tuh negara jajahan lagi
tapi sekarang sudah muncul penjajahan gaya baru mulai dari style sampai kebijakan negara, kita contoh aja negara tercinta kita ini ada g style asli negara kita, ada g orang yakin bahwa bahasa yang dia pakai sehari-hari adalah bahasa indonesia yang baik dan benar (termasuk saya orang yang bisa pake bahasa inidonesia yang baik dan benar) sampe kebijakan negara kita yang tidak bisa keluar dari campur tangan pihak luar(katanya sih supaya ada investornya). hal ini terlihat sekali pada kebijakan2 di bidang ekonomi. kalo kita liat bagaimana lembek nya sikap negara kita sama singapura dan malaysia, sama freeport tuh yang ngabisin emas di papua tapi orang papua tetap miskin. kita sudah terzolimi saudara
ironis memang dan serba salah untuk keluar dari ketian para neokolonis(benar g sih bahasanya) kita g bisa, emang kita bisa apa sih?
katanya sih SDA kita banyak dan masih banyak tersimpan tapi SDM kita bisa g mengelola nya tanpa "orang-orang tu".
masih terngiang di telinga saat bung karno mengatakan beri saya sepuluh pemuda maka saya akan merupah dunia. udah lebih dari sepuluh pemuda yang dimiliki Indonesia tapi sampai Bung karno mati kita masih seperti malah lebih parah dari dulu
ini bukan ungkapan pesimis tapi apa lagi yang mau dioptimis kan dari negeri kaya ini, malah ada siaran telivisi plesetan yang sampe2 tidak mengakui negaranya sendiri malah mengatakan negara indonesia sebagai negara tetangga, sebegitu parahkah Indonesia yang tercinta ini
semoga tulisan ini salah, ini harapan ku