Selasa, 15 Januari 2008
KESEIMBANGAN FIKIR, ZIKIR DAN AMAL; CERMINAN MANUSIA IDEAL
"Sesungguhnya dalam terciptanya langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang, semua itu ialah tanda (ayat) bagi orang yang berakal" (ulul albab)
Siapa sesungguhnya manusia? Pertanyaan itu merupakan pertanyaan abadi bagi manusia yang mencari jati dirinya.Dalam mutiara hikmah Arab dinyatakan bahwa man 'arafa nafsahu faqad 'arafa Rabbahu (Barangsiapa mengenal dirinya, maka ia mengetahui Tuhannya), Al-Qur'an pun dengan tegas memperingatkan manusia untuk selalu berfikir, terutama tentang dirinya. 'Wa fī anfusikum afala tubshirūn (dan terhadap dirimu apakah tidak kau selidiki?)
Pertanyaan tersebut sebenarnya sudah berusaha dijawab, namun jawaban-jawaban itu akan terus berkembang karna manusia belum menemukan jawaban seutuhnya, karna manusia adalah makhluk yang multi dimensi. Makhluk yang dapat dikaji dari berbagai segi.
Pembahasan soal manusia seolah tanpa batas, bisa dipahami dari berbagai pendekatan,seperti pendekatan materialisme, idealisme, antropologis, sosiologis, psikologis, teologis dan lain sebagainya.Adapun dalam pendekatan teologis, manusia dipandang menggunakan Al-Qur'an yang membahas manusia secara holistic (menyeluruh) menyangkut berbagai aspek, baik dari materi, tujuan, fungsi penciptaan, pandangan hidup, kebaikan dan keburukan, serta ikhtiar dan takdir manusia.
Manusia diciptakan Allah bukan tanpa tujuan, tanpa ukuran dan bukan sia-sia. Allah menciptakan manusia dengan tujuan agar manusia menjadi khalifah di bumi dan agar menjadi hamba Allah yang mengabdi kepada-Nya.Bumi beserta seluruh isinya diciptakan oleh Allah untuk memenuhi kebutuhan manusia, sebagai rasa kasih sayang Allah.
Sebagai khalifah di bumi berarti manusia melakukan fungsinya mengatur kehidupan dalam berbagai bidang dengan sebaik-baiknya, yaitu dengan mengikuti peraturan-peraturan yang telah digariskan oleh Sang Pemberi Mandat. Jika aturan itu ditaati, maka kehidupan di dunia akan harmonis, sebaliknya jika kehidupan di bumi diatur oleh orang-orang yang mengingkari aturan, maka konflik-konflik akan terus muncul
Disamping itu, manusia sebagai hamba Allah harus menjalankan fungsinya sebagai Abdullah, senantiasa beribadah kepada Allah. Menjalankan ibadah itu bukan hanya di masjid ketika shalat, tetapi melaksanakan segala pekerjaan asal dengan niatan yang tulus tentu dapat dinilai sebagai sebuah ibadah. Segala aktifitas dilakukan dengan niat karena Allah, dengan mengikuti aturan Allah, dengan mencontoh Nabi Muhammad SAW sebagai utusan Allah, dan dipenuhi dengan rasa cinta dan takwa kepada Allah SWT.Walaupun demikian, pada kenyataannya, banyak manusia yang menghambakan diri (menyembah) kepada selain Allah, seperti kepada hawa nafsu, uang, harta, jabatan, status, ilmu, teknologi, atasan dan sebagainya. Mereka mencurahkan dengan sepenuh rasa cinta dan takut kepada selain Allah tersebut, sehingga lupa fungsi kemanusiaannya sebagai hamba Allah.
a. Insan ulul albab; karakter muslim ideal
Ulul albab adalah salah satu karakteristik ideal seorang muslim. Kata itu disebutkan 16 kali dalam al-Qur'an.Ulul albab berasal dari dua kata, yaitu ulu yang berarti memiliki dan al-albab adalah bentuk jamak dari al-lubb, yang artinya otak atau pikiran. Dengan demikian ulul albab berarti orang yang mempunyai otak yang berlapis-lapis sekaligus perasaan yang dalam, atau orang yang memiliki berbagai kualitas.
Surat Ali 'Imran ayat 191 menyebutkan "Yaitu orang-orang yang mengingat-ingat Allah sambil berdiri dan sambil duduk dan sambil berbaring diatas lambung mereka. Dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi. (lalu mengambil kesimpulan): Tuhan kami, Engkau tidak menciptakan itu semua dengan sia-sia. Maha Suci Engkau. Selamatkan kami dari siksa neraka."
Dan dari
Dalam ayat tersebut, timbul konsep tentang dzikir dan fikir. Ayat ini mengatakan bahwa orang yang mempunyai akal, akan melihat seluruh gejala langit dan bumi yang tercipta sebagai gejala ontologis yang perlu difikirkan.Mereka yang berfikir pasti mengambil I'tibar dari gejala alam dan akan melakukan sesuatu, misalnya membuat saluran irigasi, bendungan untuk mendistribusikan air hujan ke daerah-daerah yang akan ditanami.
Seorang yang mempunyai kualitas ulul albab bisa berkembang menjadi ahli tehnik, botanikus, atau petani biasa yang bisa memanfaatkan sumber daya alam.Tapi tidak berhenti disitu saja, seorang ulul albab akan merenung juga bahwa semua itu mempunyai masa hidup tertentu, lalu akan layu dan kemudian mati. Disini ia akan melakukan transendensi, berfikir lebih jauh tentang hakikat hidup, karena proses berfikir dengan segala derifasinya, teknologi, sains, peradaban dan lain sebagainya, tidak akan bermakna dihadapan Allah kecuali disesuaikan dengan aturan-aturan penggunaannya dalam al-Qur'an yang telah ditetapkan Allah.
Dalam masalah fikir dan dzikir ini keduanya tidak dapat dipisahkan satu dari yang lain. Karena perpaduan antara aspek fikir dan aspek dzikir inilah yang merupakan formasi satu karakter insan ulul albab.Ulul albab tidak hanya berfikir tentang alam fisik dan berdzikir saja, melainkan juga dengan amal konkritnya.
Kepemilikan pengetahuan saja tidaklah cukup untuk membuat seseorang mendapat kualifikasi sebagai ulul albab. Ia juga harus seorang yang punya keterikatan moral, memiliki komitmen sosial dan melaksanakan sesuatu dengan baik.Manusia ideal bukanlah hanya seseorang yang mempunyai kesalehan individual yang berkaitan dengan ibadah mahdhah, yaitu hubungan dia sebagai makhluk dengan Sang Maha Penciptanya. Dengan rajin shalat, puasa dan ibadah ritual lainnya saja. Keberagamaan bukan untuk kepentingan diri sendiri yang egoistik, memikirkan pahala diri sendiri. Namun manusia ideal adalah yang mempunyai kesalehan sosial yang berkaitan dengan ibadah muamalah yang mengatur hubungan makhluk Allah dengan mahluk lainnya. Hal ini terlihat dengan mengaktualisasikan kesalehannya kedalam kehidupan sosial dengan amal konkritnya, mungkin berupa membebaskan masyarakat dari kebodohan dan kemiskinan, menghasilkan kebaikan, perdamaian, keadilan dan tentunya kesejahteraan.
Manusia ideal tidak akan tinggal diam ketika bangsanya ada pada posisi puncak dalam masalah korupsi. Kemiskinan makin terasa dan makin meluas. Hukum tidak ditegakkan. Anak muda makin terseret jauh dalam penggunaan narkotika dan obat-obat berbahaya lainnya. Dia akan mempunyai daya sentuh, daya gugah serta daya ubah terhadap sikap dan perilaku masyarakat yang melenceng.
Dengan demikian, muslim ideal adalah orang yang memiliki misi dan komitmen terhadap perubahan sosial dan memiliki keberanian moral untuk membela dan mempertahankan kebenaran dan keadilan, juga merupakan orang yang mempunyai kepekaan, sikap kritis, dan tanggungjawab sosial untuk bertindak demi kebaikan sesama manusia.
Dengan kemampuan fikirnya, ia selalu mencoba untuk menggali ilmu sedalam-dalamnya. Ia sadar hanya dengan ilmu itulah Allah akan meninggikan derajatnya diantara orang-orang yang beriman. Dengan ditunjang kekuatan dzikirnya kepada Allah, dalam hidup ini ia sadar bahwa tidak pantas baginya sombong dengan ilmu yang dimilikinya, karena semua itu milik Allah.
Selain itu seorang muslim adalah delegasi Allah, yaitu sebagai khalifah-Nya di bumi, untuk mengatur dan menjaga kelestarian alam semesta.Muslim ideal bukanlah orang yang bergantung di atas angin atau tinggal di menara gading. Muslim ideal adalah orang yang sering terdorong untuk mengotori tangannya dengan kegiatan konkrit kemasyarakatan. Dimanapun berada, ia selalu mempergunakan ilmunya dengan berpedoman kepada kebenaran dan keadilan.
Dapatkah kita jumpai orang-orang yang mempunyai kualitas tinggi tersebut?Tentu saja sulit. Tetapi diantara yang sulit tersebut kita temukan tokoh para Rasul dan Nabi, terutama yang disebutkan dalam
Walaupun demikian, dengan menjalankan syarat-syarat yang telah ditentukan dalam Al-Qur'an itu, maka orang-orang biasapun bisa mencapai kualitas ulul albab. Jika tidak, mengapa kata tersebut disebut dalam Al-Qur'an sebanyak 16 kali, kalau tidak untuk diteladani dan dicapai?
Marilah bersama berlomba-lomba mencapainya……*
Tuhanku, ku ingin menjadi ciri-ciri manusa ideal
Love, keep and guide me, my Allah!!!
kehidupan selanjutnya
nah dari kehidupan sementara dan pasti akan menuju kehidupan selanjutnya lah maka kita harus berlaku baik baik untuk kita sendiri orang lain maupun lingkungan sekitarnya
marilah ktia berubah untuk kehidupan selanjutnya ini
penjajahan gaya baru
tapi sekarang sudah muncul penjajahan gaya baru mulai dari style sampai kebijakan negara, kita contoh aja negara tercinta kita ini ada g style asli negara kita, ada g orang yakin bahwa bahasa yang dia pakai sehari-hari adalah bahasa indonesia yang baik dan benar (termasuk saya orang yang bisa pake bahasa inidonesia yang baik dan benar) sampe kebijakan negara kita yang tidak bisa keluar dari campur tangan pihak luar(katanya sih supaya ada investornya). hal ini terlihat sekali pada kebijakan2 di bidang ekonomi. kalo kita liat bagaimana lembek nya sikap negara kita sama singapura dan malaysia, sama freeport tuh yang ngabisin emas di papua tapi orang papua tetap miskin. kita sudah terzolimi saudara
ironis memang dan serba salah untuk keluar dari ketian para neokolonis(benar g sih bahasanya) kita g bisa, emang kita bisa apa sih?
katanya sih SDA kita banyak dan masih banyak tersimpan tapi SDM kita bisa g mengelola nya tanpa "orang-orang tu".
masih terngiang di telinga saat bung karno mengatakan beri saya sepuluh pemuda maka saya akan merupah dunia. udah lebih dari sepuluh pemuda yang dimiliki Indonesia tapi sampai Bung karno mati kita masih seperti malah lebih parah dari dulu
ini bukan ungkapan pesimis tapi apa lagi yang mau dioptimis kan dari negeri kaya ini, malah ada siaran telivisi plesetan yang sampe2 tidak mengakui negaranya sendiri malah mengatakan negara indonesia sebagai negara tetangga, sebegitu parahkah Indonesia yang tercinta ini
semoga tulisan ini salah, ini harapan ku

Tidak ada komentar:
Posting Komentar