Sabtu, 10 Mei 2008
SEJARAH SINGKAT KELAHIRAN NDP
sebelum NDP lahir sebagai asas Organisasi HMI, HMI sudah punya pedoman sebagai perjuangan mereka yaitu GPPO atau kita sebut Garis Perjuangan Pedoman Organisasi namun dalam kelahirannya itu tidak di bukukan secara teks sehingga tidak ada dalam Kontitusi pada waktu itu.
Akhirnya pada tahun 1969 tepatnya Konggres di Malang yaitu konggres HMI yang ke IX di sinilah terjadi pembukuan asas organisasi HMI tersebut, karena memandang bahwa GPPO sudah tidak relevan di gunakan maka asas itu pun di rubah dan diganti dengan yang baru yaitu NDP (Nilai Dasar Perjuangan) yang di tawarkan oleh Nur Cholis Masjid (Cak Nur ), Endang Saifuddin Anshori dan Shohib Mahmud. setelah NDP lahir dan di gunakan sebagai asas perjuangan organisasi HMI untuk mencetak kader-kadernya yang berkualitas yaitu dengan memahami isi NDP tersebut dan mengaplikasikannya di tengah-tengah kehidupan Bangsa dan Negara.
Namun ketika pada masa pemerintahan Orde Baru yang di pimmpin oleh Pak Harto diberlakukan Undang-Undang no 8 mengenai asas tunggal bagi semua organisasi social politik dan organisasi kemasyarakatan di Indonesia yaitu menjadikannya pancasila sebagai satu-satunya asas bagi semua ormas dan jika tidak patuh pada UU tersebut ormas pun akan di bubarkan dan tidak di akui secara resmi. Kehadiran UU ini membuat permasalahan yang cukup segnifikan bagi semua ormas yang ada di Indonesia, yang akhirnya untuk menyiasati itu maka NDP berubah menjadi NIK (nilai indentitas kader)
Dengan berlakunya UU tersebut membawa beberapa kebijakan pada ormas
pertama menerima tanpa banyak persoalan, yaitu NU dan kelompok-kelompok lain yang memiliki hubungan dengan pemerintah, dengan alasan bahwa pancasila tidak bertentangan dengan islam.
Kedua menerimanya tapi menunggu adanya UU Formal yang di buat oleh pemerintah. Kebanyakan umat islam mengambil sikap ini, termasuk Muhammadiyah.
Ketiga bersikap apatis, yaitu mereka yang berpendidikan rendah dan selalu mendukung kehendak pemerintah. Ini adalah sikap mayoritas umat islam
Keempat menolak sama sekali kebijakan itu yaitu HMI MPO, PII dan Gerakan Pemuda Marhaenis. Inilah awal perpecahan MHI pada kancah politik di Indonesia.
Ketika masa orde baru lengser berubah menjadi reformasi uu no 8 tidak di berlakukan lagi maka HMI DIPO pun kembali pada asas semula yaitu islam tetapi masih tetap tidak bisa bersatu kembali.
Memasuki Konggres Yang Ke 25 Di Makasar 2006 terjadilah perubahan NDP karena beberapa Cabang HMI memandang bahwa NDP itu sudah tidak relevan lagi untuk mencetak kader yang sadar akan tanggung jawabnya sebagai kader dan untuk memahamkan para kader agar lebih mudah memahami NDP. namun perubahan NDP kali ini tidak merubah isi dari NDP tersebut akan tetapi perubahan hanya terjadi pada teksnya saja agar lebih mudah di pahami oleh para Kader-Kader HMI.
Baik lah kawan –kawan kita akan bersama-sama membahas isi dari NDP tersebut yang ada 8 BAB tapi dalam pembahasan kali ini saya akan mengemukakan Cuma inti – inti dari NDP yang baru tersebut.
1. Landasan Dan Pola Berfikir
Pada BAB ini menekankan agar pola – pola pikir kader yang terbentuk bisa mempunyai pengetahuan yang obyektif, rasional dan dapat di pertanggung jawabkan.
Untuk mengawali pembahasan ini saya kemukakan 3 teori dari asal mula kita memperoleh pengetahuan
a) Teorinya Plato :
Pengetahuan menurut nya sudah ada dia mengatakan bahwa asal mula pengetahuan itu dari proses pengingatan kembali.
b) Paham Empirisme
Mengatakan asal mula pengetahuan manusia di peroleh oleh indra pendapat ini di pelopori oleh Jhon Loke, Beir Kelay, dan David Home
c) Metafisika Islam
Ini lah pendapat yang terakhir berpendapat bahwa kedua-duanya masuk baik indra ataupun akal ini di pelopori oleh para Filsuf Islam (Al-Kindi Ibnu Sina) doktrinnya di kenal dengan metafisika islam/ rasionalisme metafisis ( awal mula gagasan manusia berawal dari proses pengindraan (Persepsi Indrawi ) kemudian persepsi kita yang lain juga ikut berperan yaitu dalam menyimpan citra dari hasil pengindraan berupa persepsi imajinasi )
Untuk mengetahui itu harus ada landasan penilaiannya
Paham Empirisme pengetahuan benar bisa di rasakan panca indra
Skeptualisme benar sesuai dengan teksnya masing-masing
Metafisika islam indra juga dengan teks Alqur’an tetapi juga masih menggunakan akal.
2. Dasar-Dasar Kepercayaan
Untuk mengawali pembahasan kali ini saya akan kemukakan bagaimana manusia itu memperoleh kepercayaan ? yang dengan dasar-dasar kepercayaannya itu akan melahirkan tata nilai bagi masyarakat.
yang melatarbelakangi adanya kepercayaan itu ada beberapa hal :
Intelektual / ilmu ini pada manusia
Idiologi yaitu sesuatu yang merupakan pandangan dia
Lingkungan
Untuk memperoleh kepercayaan / kebenaran
Ada 2 aliran
Shopisme
Suatu paham yang mengakui bahwa sanya kebenaran bersifat relative tidak ada kebenaran yang mutlaq (kebenaran adalah persepsi ide atau gagasan) sehingga nantinya akan timbul pendapat masing-masing individu yang berbeda beda
Materialisme
Kebenaran adalah sesuatu yang bersifat materi (yang bisa di lihat oleh panca indra)
Dalam artian kebenaran adalah kesesuaian antara realitas dan ide.
Ide di kaitkan dengan realitas ada 3 hal
Ide wajibul wujud dalam artian ide itu harus wajib ada
Ide mustahil wujud dalam artian ilmu/ gagasan yang mustahil ada
Ide mumkin wujud sesuatu yang tidak bisa di buktikan (tidak ada yang tidak bisa di buktikan
Ide wajibul wujud ada 2
Wajib wujud karena dirinya sendiri (kausalitas)
Wajib wujud karena orang lain
Argument Wujud Ada
Ada sama dengan ada
Ada tidak sama dengan tidak ada
Ada mustahil tidak sama dengan tidak ada
Teori gerak
Adanya gerak yang ada di alam semesta ini pasti ada yang menggerakkan dan seterusnya.
Karena ini adalah prinsip hukum dengan beberapa ketiga hal tersebut maka manusia mengakui adanya Tuhan
Dengan ini maka muncul 2 konsep teoritis (konsep Tuhan bagaimana) praktis (sebagaimana seharusnya)
Jika manusia sudah mempercayai adanya Tuhan maka kita butuh pedoman untuk tataran teknis. Kenapa kok agama islam ? karena yang tuhannya islam itu satu tidak bisa di ciptakan.
3.Hakekat Penciptaan Dan Eskatologi
Untuk memahami ini kita ambil konsep dulu dalam islam yaitu (innalillahi) Kosmologi (wainnaillaihi rojiun.) Eskatologi
kosmologi berarti penciptaan
eskatologi berarti akhir dari dunia
Untuk memahami ini kita bahas eskalogi dulu. Eskatologi menurut materalisme ada 2
mekanik mengartikan bahwa dunia sama dengan mesin yang nantinya akan rusak dan tidak bisa berevolusi lagi
Dialektis mengartikan bahwa dunia ini bergerak sesuai dengan teori dialektis yaitu dunia nanti akan rusak tapi bisa berevolusi kembali.
Itu menawarkan konsep tesis, anti tesis dan sistesis, jadi dalam artian dunia kekal tidak percaya adanya pahala dan paksaan.
Kedua paham ini sama2 berorientasi pada kehidupan hedonis.
Akhir dunia menurut islam (ibnu sina al kindi )
Ontologinya ada 2
gerak substansial gerak ini ukurannya waktu
gerak aksident gerak ini ukurannya tempat
kosmologi yaitu hakikat penciptaan manusia seperti apa ?
hakikatnya manusia di ciptakan tidak hanya menikmati fasilitas yang ada akan tetapi bagaimana nanti di pertanggung jawabkan kemudian di alam akhirat karena alam akhirat tidak sama dengan alam dunia.
Sang kholig di lihat dari sifatnya ada 2
1 jamal (baik) 2. jahal (buruk) jadi menurutnya sifat asmaul husna itu terbagi 2.
Bagaimana manusia bisa merealisasikan apa yang di perintahkan oleh tuhan (taqwa).
4. Manusia Dan Nilai2 Kemanusiaan
apa itu manusia? manfaat manusia di ciptakan? Untuk apa manusia di ciptakan?
Menurut Plotinus seorang filsuf barat pada abad pertengahan /agama lebih mendominasi dari pada akal.
Ia mengatakan bahwa manusia itu lebih mulia daripada makhluk yang lain
Mengapa demikian?
Plotinus melihat bahwa bumi sebagai pusat peredaran dari planet2lain (manusia lebih mulia dari makhluk yang lain)
Seiring waktu pendapat itu terus berlalu tapi setelah kemunculan Bruno dan Galileo dia berpendapat bukan bumi yang di intari tapi mataharilah sebagai pusat peredaran (dari ini maka kemuliaan manusia menjadi mentah)
Gak ada nilai2 kemanusian pada diri manusia dan ketika kacau maka muncul Paham Humanis yaitu paham yang memberi pencerahan
Ia mengatakan : bahwa kekuasaan, kekuatan, pengetahuan ilmiah, jabatan, kekuatan spasial yang di miliki manusia dari makhluk2 yang lain itu (mulia) (filsafat modern) manusia mulia karena kekuasannya.
Paham Islam Mengadopsi Al-Quran
Membagi manusia menjadi 3
Bazaar (fisik)
Insane (non fisik) cerdas, memiliki spiritual
Annas (sosiologis) masyarakat kalau tidak maka tidak akan bisa hidup
Nilai2 kemanusiaan
Manusia bisa mengabungkan antara konsep dan praktek nya mampu menaklukkan naluri2 fisiknya (manusia itu akan sempurna ) jadi mengambil insan2 yang baik.
Yang mengukur kesempurnaan adalah Tuhan.
5. Kemerdekaan Manusia (Ikhtiar) dan Keniscayaan Universal (Takdir)
Ikhtiar (berusaha)
manusia menurut islam merdeka tidak ada terbelenggu yang lain
manusia menurut barat (bebas) manusia masih terbelenggu dalam dirinya.
Manusia terbagi 2 barat
Deterimenisme tingkah laku manusia di tentukan oleh di luar dirinya sendiri (jabariah)
Free wile bebas berkehendak
Mansudnya : manusia adalah makhluk bebas sehingga bisa menentukan dirinya sendiri
Kedua pendapat ini bisa salah keduannya atau salah satunya benar.
Kritik paham Deterimenisme ini adalah sebuah gerbong (jabariah katolik)
Manusia nanti seperti robot dalam konsep tuhan ini tidak adil karena apa ? sulit di pahami jika manusia di setting oleh tuhan.
Free wile keinginan manusia bebas menentukan dirinya sendiri itu di pertanyakan ini nanti akan mempertanyakan sifat dari tuhan ?
Takdir (NDP) system kausalitas umum yang terangkai secara emanatif (pancaran) berakhir pada tuhan sebagai sebab dari segala sebab.
Takdir ada 2
Qodho (putusan / ketetapan tuhan yang di buat)
Qodar (ukuran / kadar di sesuaikan oleh kadarnya) untuk mencapai pada qodar maka di sesuaikan dengan ukurannya. Nah mansudnya adalah ketetapan berlaku jika sesuai dengan kadarnya.
Ikhtiar (memilih) dalam artian memilih takdir dalam hal ini tuhan itu menentukan akan tetapi manusia bebas memilih
Jadi intinya adalah sudah di tentukan oleh tuhan akan tetapi manusia bebas memilih.
6. Individu Dan Masyarakat
individu ada 2 kata : in artinya tidak divide artinya terbagi
diri yang tidak terbagi
individu itu bukan merujuk pada kondisi fisik akan tetapi non fisik.
Masyarakat : kumpulan individu, bernasib sama, bertempat tinggal di daerah yang sama, norma-norma dan bertujuan sama.
Apakah masyarakat itu kecenderungan manusia atau ada dalam sendirinya
Hubungan manusia dengan masyarakat dalam realitas social seperti apa ?
Bahwa pada dasarnya manusia tidak memiliki kecenderungan bermasyarakat adanya itu karena keterpaksaan yaitu berkumpul untuk membentuk kekuatan dari luar( teori klasik) ini adanya pada manusia sejarah yang hidupnya nomaden
Bermasyarakat yang di lakukan manusia karena pertimbangan rasional demi untuk mencapai kepentingan (misalnya 2 orang membentuk bisnis) masyarakat tidak ada kalau tidak untuk mencapai keuntungan (kapitalisme)
Masyarakat ada karena kecenderungan sifat manusia
misalnya antara laki2 dan pr kotmitmen untuk membangun sebuah keluarga atau komunitas
Teori terbentuknya masyarakat ada 4
Masyarakat tidak real yang nyata adalah individu (Nicshe) anti pada masyarakat menurutnya : nilai2 kemasyarakatan membuat manusia lemah sehingga manusia itu tidak bisa mengeluarkan potensi (rokok)
Yang real adalah masyarakat meskipun pada awalnya individu sudah punya identitas, identidas tidak akan bermakna jika tidak ada dalam masyarakat.
Materialis (dur kein weber)
pada dasarnya individu tidak memiliki identitas apa2 tapi setelah masuk dalam satu komunitas masyarakat pada waktu itu individu memiliki identitas (identitas masyarakatnya)
individu itu punya realitas sekaligus identitas dan masyarakat punya realitas sekaligus identitas
ketika nanti individu masuk pada masyarakat maka identitas individu itu akan bertambah
Jika kedua-keduanya bertemu maka terjadi proses dialektika / gesekan mana yang lebih berdominasi individu atau masyarakat.
Masyarakat lebih dominasi dari pada individu maka individu tidak punya prinsip ini akan menyebabkan individu tersebut lemah.
Individu kuat punya peluang besar untuk mempengarui masyarakatnya.
Siapa pun orang nya punya peluang besar untuk bisa merubah masyarakat.
Faktor penggerak masyarakat
Paham materalisme
Struktur masyarakat ada 2
Basic struktur
Cara dan alat produksi
Supra stuktur (budaya, pola piker, idiologi, agama)
Ini di pengaruhi oleh basic stuktur
Karl mark untuk merubah supra stuktur rubahlah Basic Struktur
Materialisme Historis membagi perkembangan masyarakat menjadi 4 fase
Komunis, Terjadi pada prasejarah masih kehidupan nomaden
Feodal ini akan menghasilkan kelas bekerja dan tuan tanah. Ketika terjadi
Kapitalis sisi individu lebih dominan yang akhirnya menjadi jenuh maka akan menghasilkan
Sosialis Komunis yang ini nantinya akan menghapus dari kalangan borjuis dan proletar.
Faktor penggerak ekonomi itu harus menggunakan idiologi karena masyarakat (Idiologi) bagaimana pola pikirnya, gagasan-gagasannya dan ide.
Jadi intinya setiap individu itu punya tanggung jawab terhadap masyarakatnya.
7. Keadilan Social dan Ekonomi
keadilan keseimbangan
proposional
keadilan akan melahirkan system social ini bisa formal atau tidak (hukum adat)
pengaruh dari keadilan itu karena pola pikir kita beda karena perbedaan ini akan melahirkan world view (pandangan dunia)
Secara Umum Ada 2 Idiologi Yang Berbicara Keadilan
Kapitalisme
manusia adalah makhluk individu makhluk baik
makhluk materi materrealistik
makhluk bebas liberalisme
system yang adil menurutnya adalah : yang memberikan kebebasan seluas-luasnya tiap-tiap individu ) pada setiap individu bebas berepresi dan berkreasi yang akhirnya membentuk suatu kompetisi antar individu dengan tujuan demi memakmurkan individu tersebut.
Di krucutkan pendidikan sekulerisasi
Politik demokrasi
Ekonomi pasar bebas
Kritik kapitalisme
Pemanfaatan pihak2 yang kuat terhadap pihak yang lemah
Menguntungkan yang punya modal
Paham sosialisme
Manusia makhluk sosial yang real dalam masyarakat (manusia pada dasarnya buruk)
Manusia makhluk materi materialistik kesejahteraan bersama
System social yang adil menurutnya adalah system social yang komunis (pendapatan-pendapatan individu di atur dalam Negara
Caranya
menghapus hak milik individu
menasionalisasikan (menguasai )alat-alat produksi
Kritik Negara ada pemimpin, pemimpin adalah individu secara tidak langsung masyarakat sosialis bekerja untuk Negara (Hitler) menindas
system ini akan merendahkan etos kerja pada masyarakat (pemerataan)
mengalami kendala hal yang individualis / khusus
Ajaran Islam
1 manusia adalah makhluk individu dan social
2. manusia adalah makhluk materi dan non materi (karena percaya ruh)
orientasi untuk individu dan social
orientasi kehidupan di dunia dan akhirat ini akan menimbulkan watak manusia jahat atau baik.
System yang adil bagi islam system yang di landasi oleh nilai-nilai ketauhidan (kerangka pikir) (manusia sama di depan tuhan)
Status social
Secara tauhid secara ekonomi manusia tidak memiliki hak terhadap benda-benda di alam semesta ( secara pribadi) manusia di beri amanah
System ekonomi kepemilikan individu di batasi sesuai dengan kaedah syariah (zakat)
Dengan ini maka akan menghasilkan manfaat bagi orang lain.
8. Sains Islam
Banyak Model Islamisasi Pengetahuan
Dengan melihat ajaran-ajaran dalam kitab tentang arti penting pendidikan
tidak bisa menyelesaikan masyarakat karena output tidak bisa menjamin intregritas moralnya.
Dengan cara menjastifikasi temuan2 ilmiah dengan ayat2 kitab suci yang di anggap relevan
Ini akan menyebabkan temuan berubah dengan perkembangan pengetahuan yang ada, dan akhirnya al-qur’an pun akan di pertanyakan
Dengan adanya pengetahuan tentang tekx tidak seperti pengetahuan yang ke2 dan 1 tidak cukup dengan itu
Yang di perlukan adalah seseorang pelajari sains yang sesuai dengan sprit (anjuran) agama
Sains atau agama itu mempunyai tujuan yang sama yaitu : menafsirkan realitas. Sains dengan menggunakan nalar dan agama di beri tuhan
Telah terjadi kesenjangan antara sains dan agama (karena punya ukuran sendiri2)
(benar menurut agama belum tentu benar menurut sains begitu sebaliknya maka manusia di tuntut untuk memilih?
Ndp sains yang berkembang saat ini telah di dominasi oleh barat yaitu sains modern
Yunani skolastik modern post modern
Epistimologi empirisme
Metode induksi
esperiment
observasi
reduksi (mencerminkan keseluruan dari benda)
ontologinya pada materi
aksiologi pengetahuan adalah : bebas nilai karena dia terlepas dari nilai2 agama atau apapun
kritik
pengetahuan sains modern terlalu sempit memahami realitas
agust counte
mistik filosofis positivisme (modern)
pengetahuan akan justru merugikan banyak orang
pengetahuan di ansumsikan bebas nilai justru menyimpang tidak bisa memberi manfaat.
NDP membagi pengetahuan menjadi 3
Epistimologi akal deduksi rasional + imajinasi (materi murni )
Khayali/imajinasi deduksi (mtk, seni)
Indra materi induksi (fisika, biologi)
Ketiganya bisa di sebut sebagai alat pengetahuan
Untuk mengetahui alam akal ( ada penyucian jiwa)
Pengetahuan di lihat dari cara memperoleh ada2
Ilmu huduri (jiwa) ilmu yang bisa di dapat iluminasi
Ilmu ushuli dengan cara proses berfikir (deduksi)
Jadi dalam artian berfikir berilmu berdasarkan akal
INILAH TIM-TIM PERUMUS 8 NDP
Amy maulana Cabang Surabaya BAB I
Kholid pegatong Cabang Makasar Timur BAB II
Teguh Cabang Samarinda BAB III
Andi achim Cabang Makasar BAB IV
Sulaiman Cabang Sulawesi Tengah BAB V
M. Rahman Cabang Sulawesi Barat BAB VI
Amrullah Cabang Kendari BAB VII
H. Ahmad Fauzi Cabang Kediri BAB VIII
Akhirnya selesai juga pemakalah membuat makalah ini dalam penyelesaian diskusi selama 10 hari di cabang kediri dan dengan selesainya makalah ini aku harapkan temen2 bisa lebih kreatif untuk mengkaji NDP karena sebetulnya dalam NDP tersebut yang terdiri dari 8 BAB terdapat beratus2 buku referensi.
Islam Agama Kemanusiaan
Persoalan kemanusiaan akhir-akhir ini bukan hanya menarik ditonton tetapi juga menarik untuk dibicarakan. Pembicaraan ini dianggap penting mengingat problek perilaku manusia modern memerlukan pemecahan segera. Kadang-kadang menurut Kuntowijoyo (1991) kita merasa bahwa situasi yang penuh problematik di dunia moderna justru disebabkan oleh perkembangan pemikiran manusia sendiri. Di balik kemajuan ilmu dan teknologi, dunia modern sesungguhnya menyimpan suatu potensi yang dapat menghancurkan martabat manusia. Umat manusia telah berhasil mengorganisasikan ekonomi, menata struktur politik serta membangun peradaban maju untuk dirinya sendiri. Tapi pada saat yang sama, kita juga menyaksikan bahwa umat manusia telah menjadi tawanan dari hasil ciptaannya itu.
Sejak manusia memasuki zaman modern, yaitu sejak manusia mampu mengembangkan potensi-potensi rasionalnya, mereka memang telah membebaskan diri dari belenggu pemikiran mistis yang irrasional dan belenggu pemikiran hukum alam yang sangat mengikat kebebasan manusia. Tetapi, ternyata di dunia modern ini manusia tak dapat melepaskan diri dari jenis belenggu lain, yaitu penyembahan pada dirinya sendiri. Inilah yang kemudian menyebabkan seolah-olah orang lain menjadi subordinat dan kurang penting keberadaannya. Dalam kondisi seperti inilah, Islam memiliki peran sangat strategis untuk “menyadarkan” frame salah tentang Islam.
Seandainya dalam teori-teori marxian ditemukan ciri-ciri transformasi sosial yang bukan hanya untuk menafsirkan realitas empiris tetapi sekaligus juga untuk mengubahnya, maka umat Islam juga akan menemukan sebuah ajaran teologi yang berorientasi kepada penyelamatan umat demi sebuah tatanan yang dicitakan yaitu teologi sosial. Islam kata Dawam dapat meredevinisi teori-teori sosialnya sesuai dengan paradigmanya untuk transformasi sosial menuju tatanan masyarakat yang sesuai dengan cita-citanya. Oleh karena itu menjadi sangat jelas bahwa Islam sangat berkepentingan pada realitas sosial, bukan hanya untuk dipahami, tapi juga diubah dan dikendalikan. Tidak Islami misalnya, jika kaum Muslimin bersikap tak acuh terhadap kondisi sesamanya, terlebih menyakiti hingga membunuhunya tanpa dosa.
Untuk mengurut sebuah perilaku solidaritas yang dibangun atas kekerabatan atau persaudaraan yang diinginkan oleh Islam, perlu sebuah perbandingan antara kondisi empiris hubungan antara manusia sebelum Islam dan perkebangan bentuk dan ikatan persaudaraan yang kemudian diinginkan oleh Islam dalam berbagai ajaran normatifnya, Zuhairi Misrawi (2004).
Untuk itu Rafsanjani (2001), secara khusus menggarisbawahi, pada prinsipnya program paling dasar dalam ajaran Islam untuk membangun dunia adalah manusia bertakwa yang bermanfaat bagi masyarakatnya kapanpun dan di manapun. Orang baik dalam masyarakat adalah modal utama bagi kemakmuran hidupannya. Namun, jika yang terjadi sebaliknya, yakni nafsu kebinatangan menguasai manusia, baik yang beragama Islam maupun lainnya, niscaya sulit untuk membangun tatanan berkeadilan dan berkeprikemanusiaan sebagai mana cita-cita al-Quran.
Landasan normatif persaudaraan antarumat manusia ini, biasanya diambil dari ayat al-Quran sendiri. Dari ajaran al-Quran, umat manusia seolah-olah disandarkan pada kenyataan bahwa keragaman dalam suku bangsa adalah sunnah Tuhan yang tidak bisa sipungkiri. Namun di dalam ayat al-Quran juga diterangkan bahwa kenyataan itu bukanlah alasan untuk bermusuh-musuhan, tapi justru untuk saling mengenal dan menjalin persaudaraan. Al-Quran seakan-akan ingin menegaskan bahwa keragaman dan fakta masyarakat yang plural, yang dijumpai manusia bukanlah alasan pembenar untuk saling melenyapkan dan menindas. Justru, dengan keragaman itulah manusia akan banyak memperoleh manfaat yang lebih besar.
Keragaman yang dibangun Tuhan dalam kosmologi kehidupan manusia ini tidak dimaksudkan untuk mensubordinatkan satu sama lain. Perbedaan tidak menunjukan kemuliaan satu di antara yang lainnya. Perbedaan itu juga tidak membedakan pandangan Tuhan atas semuanya. Tuhan melihat semuanya sama dan atas kesamaan itu, Tuhan hanya menginginkan sebuah pengabdian manusia dengan saling menyayangi satu sama lain. Yang membedakan kemudian bukan pada fakta perbedaannya itu sendiri, tetapi upaya manusia dalam membangun kualitas dirinya sendiri. Setiap orang memiliki potensi untuk berilmu dan bertaqwa, tetapi tidak setiap orang dapat melakukannya – kendati Tuhan telah memberikan pentunjuk-Nya kepada manusia.
Upaya untuk membangun manusia yang berkualitas dari sisi ilmu dan ketaqwaan inilah yang kemudian menciptakan derajat diri sehingga mendapat pujian Tuhan. Itulah kenapa Tuhan hanya membedakan manusia dari yang berilmu dan tidak, yang bertaqwa dengan yang tidak, bukan pada konteks perbedaan warna kulit, bahasa, suku bangsa, dan pemahaman keagamaan.
Mengapa mesti ilmu? Ilmu adalah entitas penting dalam peradaban manusia untuk mencapai kemajuan zaman. Ilmulah yang dapat menjadikan manusia menjadi berharga sehingga dapat meningkatkan harkat derajatnya. Dalam komunitas sosial, kita akan menyaksikan secara kasat mata, mana komunitas masyarakat yang berilmu dan yang tidak. Setidaknya dari kualitas hidup dan tingkat kebersahajaannya. Ilmu pula yang kemudian dapat membuktikan berbagai rahasiah Tuhan di bumi ini. Karenanya, al-Quran dalam beberapa ayatnya menyebutkan diturunkan bagi orang yang berilmu, dalam ayat lain disebut bagi orang yang berakal, dan yang lainnya.
Mengapa pula manusia mesti betaqwa? Semakin manusia bertaqwa maka semakin dekat dirinya dengan Tuhan. Semakin dekat dirinya dengan Tuhan, berarti semakin mendekatkan sifatnya dengan sifat-sifat Tuhan. Dalam wacana inilah kemudian penting digaris bawahi bahwa keberadaan manusia di bumi ini sengaja diciptakan tuhan dengan berbagai keragaman, dengan maksud untuk semakin memperluas persaudaraan. Tidak mungkin misalnya orang yang bertaqwa sampai berani melakukan hal-hal negatif yang merugikan orang lain. Tidak ada dalam rumusnya bahwa orang bertaqwa dapat dengan membabi buta menghancurkan tempat ibadah orang lain hanya karena perbedaan paham. Mengapa demikian, sebab perbedaan paham merupakan bentuk keragaman lain yang harus dihormati bukan dibenci dan didolimi.
Kita memiliki sebuah pemahaman, orang lain memiliki pemahaman sendiri, kita menganggap benar dengan apa yang kita pahami dan orang lain juga sama. Persoalannya, pemahaman mana yang paling benar? Itulah persoalan kita. Kita punya dasar hukum, orang lain juga begitu. Karenanya, marilah dalam membangun kebersamaan ini kita saling menyadari bahwa kebenaran yang mutlak itu ada pada-Nya. Kita tidak bisa menghakimi mana yang benar mutlak dan salah mutlak. Hanya Allah yang tahu. Yang penting adalah bagaimana kita taat dalam keyakinan kita, seraya menebarkan rasa cinta untuk membangun persaudaraan di bumi, dalam suasana perbedaan.
Dalam Islam ada sebuah praktek sederhana tetapi sesungguhnya memberi spirit perdamaian mendalam yaitu konsep memberi salam. Dalam QS al-Nisa: 86 dijelaskan: “Apabila kamu diberi penghormatan dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya atau balaslah penghormatan itu dengan yang sama.”
KESEIMBANGAN FIKIR, ZIKIR DAN AMAL; CERMINAN MANUSIA IDEAL
"Sesungguhnya dalam terciptanya langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang, semua itu ialah tanda (ayat) bagi orang yang berakal" (ulul albab)
Siapa sesungguhnya manusia? Pertanyaan itu merupakan pertanyaan abadi bagi manusia yang mencari jati dirinya.Dalam mutiara hikmah Arab dinyatakan bahwa man 'arafa nafsahu faqad 'arafa Rabbahu (Barangsiapa mengenal dirinya, maka ia mengetahui Tuhannya), Al-Qur'an pun dengan tegas memperingatkan manusia untuk selalu berfikir, terutama tentang dirinya. 'Wa fī anfusikum afala tubshirūn (dan terhadap dirimu apakah tidak kau selidiki?)
Pertanyaan tersebut sebenarnya sudah berusaha dijawab, namun jawaban-jawaban itu akan terus berkembang karna manusia belum menemukan jawaban seutuhnya, karna manusia adalah makhluk yang multi dimensi. Makhluk yang dapat dikaji dari berbagai segi.
Pembahasan soal manusia seolah tanpa batas, bisa dipahami dari berbagai pendekatan,seperti pendekatan materialisme, idealisme, antropologis, sosiologis, psikologis, teologis dan lain sebagainya.Adapun dalam pendekatan teologis, manusia dipandang menggunakan Al-Qur'an yang membahas manusia secara holistic (menyeluruh) menyangkut berbagai aspek, baik dari materi, tujuan, fungsi penciptaan, pandangan hidup, kebaikan dan keburukan, serta ikhtiar dan takdir manusia.
Manusia diciptakan Allah bukan tanpa tujuan, tanpa ukuran dan bukan sia-sia. Allah menciptakan manusia dengan tujuan agar manusia menjadi khalifah di bumi dan agar menjadi hamba Allah yang mengabdi kepada-Nya.Bumi beserta seluruh isinya diciptakan oleh Allah untuk memenuhi kebutuhan manusia, sebagai rasa kasih sayang Allah.
Sebagai khalifah di bumi berarti manusia melakukan fungsinya mengatur kehidupan dalam berbagai bidang dengan sebaik-baiknya, yaitu dengan mengikuti peraturan-peraturan yang telah digariskan oleh Sang Pemberi Mandat. Jika aturan itu ditaati, maka kehidupan di dunia akan harmonis, sebaliknya jika kehidupan di bumi diatur oleh orang-orang yang mengingkari aturan, maka konflik-konflik akan terus muncul
Disamping itu, manusia sebagai hamba Allah harus menjalankan fungsinya sebagai Abdullah, senantiasa beribadah kepada Allah. Menjalankan ibadah itu bukan hanya di masjid ketika shalat, tetapi melaksanakan segala pekerjaan asal dengan niatan yang tulus tentu dapat dinilai sebagai sebuah ibadah. Segala aktifitas dilakukan dengan niat karena Allah, dengan mengikuti aturan Allah, dengan mencontoh Nabi Muhammad SAW sebagai utusan Allah, dan dipenuhi dengan rasa cinta dan takwa kepada Allah SWT.Walaupun demikian, pada kenyataannya, banyak manusia yang menghambakan diri (menyembah) kepada selain Allah, seperti kepada hawa nafsu, uang, harta, jabatan, status, ilmu, teknologi, atasan dan sebagainya. Mereka mencurahkan dengan sepenuh rasa cinta dan takut kepada selain Allah tersebut, sehingga lupa fungsi kemanusiaannya sebagai hamba Allah.
a. Insan ulul albab; karakter muslim ideal
Ulul albab adalah salah satu karakteristik ideal seorang muslim. Kata itu disebutkan 16 kali dalam al-Qur'an.Ulul albab berasal dari dua kata, yaitu ulu yang berarti memiliki dan al-albab adalah bentuk jamak dari al-lubb, yang artinya otak atau pikiran. Dengan demikian ulul albab berarti orang yang mempunyai otak yang berlapis-lapis sekaligus perasaan yang dalam, atau orang yang memiliki berbagai kualitas.
Surat Ali 'Imran ayat 191 menyebutkan "Yaitu orang-orang yang mengingat-ingat Allah sambil berdiri dan sambil duduk dan sambil berbaring diatas lambung mereka. Dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi. (lalu mengambil kesimpulan): Tuhan kami, Engkau tidak menciptakan itu semua dengan sia-sia. Maha Suci Engkau. Selamatkan kami dari siksa neraka."
Dan dari
Dalam ayat tersebut, timbul konsep tentang dzikir dan fikir. Ayat ini mengatakan bahwa orang yang mempunyai akal, akan melihat seluruh gejala langit dan bumi yang tercipta sebagai gejala ontologis yang perlu difikirkan.Mereka yang berfikir pasti mengambil I'tibar dari gejala alam dan akan melakukan sesuatu, misalnya membuat saluran irigasi, bendungan untuk mendistribusikan air hujan ke daerah-daerah yang akan ditanami.
Seorang yang mempunyai kualitas ulul albab bisa berkembang menjadi ahli tehnik, botanikus, atau petani biasa yang bisa memanfaatkan sumber daya alam.Tapi tidak berhenti disitu saja, seorang ulul albab akan merenung juga bahwa semua itu mempunyai masa hidup tertentu, lalu akan layu dan kemudian mati. Disini ia akan melakukan transendensi, berfikir lebih jauh tentang hakikat hidup, karena proses berfikir dengan segala derifasinya, teknologi, sains, peradaban dan lain sebagainya, tidak akan bermakna dihadapan Allah kecuali disesuaikan dengan aturan-aturan penggunaannya dalam al-Qur'an yang telah ditetapkan Allah.
Dalam masalah fikir dan dzikir ini keduanya tidak dapat dipisahkan satu dari yang lain. Karena perpaduan antara aspek fikir dan aspek dzikir inilah yang merupakan formasi satu karakter insan ulul albab.Ulul albab tidak hanya berfikir tentang alam fisik dan berdzikir saja, melainkan juga dengan amal konkritnya.
Kepemilikan pengetahuan saja tidaklah cukup untuk membuat seseorang mendapat kualifikasi sebagai ulul albab. Ia juga harus seorang yang punya keterikatan moral, memiliki komitmen sosial dan melaksanakan sesuatu dengan baik.Manusia ideal bukanlah hanya seseorang yang mempunyai kesalehan individual yang berkaitan dengan ibadah mahdhah, yaitu hubungan dia sebagai makhluk dengan Sang Maha Penciptanya. Dengan rajin shalat, puasa dan ibadah ritual lainnya saja. Keberagamaan bukan untuk kepentingan diri sendiri yang egoistik, memikirkan pahala diri sendiri. Namun manusia ideal adalah yang mempunyai kesalehan sosial yang berkaitan dengan ibadah muamalah yang mengatur hubungan makhluk Allah dengan mahluk lainnya. Hal ini terlihat dengan mengaktualisasikan kesalehannya kedalam kehidupan sosial dengan amal konkritnya, mungkin berupa membebaskan masyarakat dari kebodohan dan kemiskinan, menghasilkan kebaikan, perdamaian, keadilan dan tentunya kesejahteraan.
Manusia ideal tidak akan tinggal diam ketika bangsanya ada pada posisi puncak dalam masalah korupsi. Kemiskinan makin terasa dan makin meluas. Hukum tidak ditegakkan. Anak muda makin terseret jauh dalam penggunaan narkotika dan obat-obat berbahaya lainnya. Dia akan mempunyai daya sentuh, daya gugah serta daya ubah terhadap sikap dan perilaku masyarakat yang melenceng.
Dengan demikian, muslim ideal adalah orang yang memiliki misi dan komitmen terhadap perubahan sosial dan memiliki keberanian moral untuk membela dan mempertahankan kebenaran dan keadilan, juga merupakan orang yang mempunyai kepekaan, sikap kritis, dan tanggungjawab sosial untuk bertindak demi kebaikan sesama manusia.
Dengan kemampuan fikirnya, ia selalu mencoba untuk menggali ilmu sedalam-dalamnya. Ia sadar hanya dengan ilmu itulah Allah akan meninggikan derajatnya diantara orang-orang yang beriman. Dengan ditunjang kekuatan dzikirnya kepada Allah, dalam hidup ini ia sadar bahwa tidak pantas baginya sombong dengan ilmu yang dimilikinya, karena semua itu milik Allah.
Selain itu seorang muslim adalah delegasi Allah, yaitu sebagai khalifah-Nya di bumi, untuk mengatur dan menjaga kelestarian alam semesta.Muslim ideal bukanlah orang yang bergantung di atas angin atau tinggal di menara gading. Muslim ideal adalah orang yang sering terdorong untuk mengotori tangannya dengan kegiatan konkrit kemasyarakatan. Dimanapun berada, ia selalu mempergunakan ilmunya dengan berpedoman kepada kebenaran dan keadilan.
Dapatkah kita jumpai orang-orang yang mempunyai kualitas tinggi tersebut?Tentu saja sulit. Tetapi diantara yang sulit tersebut kita temukan tokoh para Rasul dan Nabi, terutama yang disebutkan dalam
Walaupun demikian, dengan menjalankan syarat-syarat yang telah ditentukan dalam Al-Qur'an itu, maka orang-orang biasapun bisa mencapai kualitas ulul albab. Jika tidak, mengapa kata tersebut disebut dalam Al-Qur'an sebanyak 16 kali, kalau tidak untuk diteladani dan dicapai?
Marilah bersama berlomba-lomba mencapainya……*
Tuhanku, ku ingin menjadi ciri-ciri manusa ideal
Love, keep and guide me, my Allah!!!
kehidupan selanjutnya
nah dari kehidupan sementara dan pasti akan menuju kehidupan selanjutnya lah maka kita harus berlaku baik baik untuk kita sendiri orang lain maupun lingkungan sekitarnya
marilah ktia berubah untuk kehidupan selanjutnya ini
penjajahan gaya baru
tapi sekarang sudah muncul penjajahan gaya baru mulai dari style sampai kebijakan negara, kita contoh aja negara tercinta kita ini ada g style asli negara kita, ada g orang yakin bahwa bahasa yang dia pakai sehari-hari adalah bahasa indonesia yang baik dan benar (termasuk saya orang yang bisa pake bahasa inidonesia yang baik dan benar) sampe kebijakan negara kita yang tidak bisa keluar dari campur tangan pihak luar(katanya sih supaya ada investornya). hal ini terlihat sekali pada kebijakan2 di bidang ekonomi. kalo kita liat bagaimana lembek nya sikap negara kita sama singapura dan malaysia, sama freeport tuh yang ngabisin emas di papua tapi orang papua tetap miskin. kita sudah terzolimi saudara
ironis memang dan serba salah untuk keluar dari ketian para neokolonis(benar g sih bahasanya) kita g bisa, emang kita bisa apa sih?
katanya sih SDA kita banyak dan masih banyak tersimpan tapi SDM kita bisa g mengelola nya tanpa "orang-orang tu".
masih terngiang di telinga saat bung karno mengatakan beri saya sepuluh pemuda maka saya akan merupah dunia. udah lebih dari sepuluh pemuda yang dimiliki Indonesia tapi sampai Bung karno mati kita masih seperti malah lebih parah dari dulu
ini bukan ungkapan pesimis tapi apa lagi yang mau dioptimis kan dari negeri kaya ini, malah ada siaran telivisi plesetan yang sampe2 tidak mengakui negaranya sendiri malah mengatakan negara indonesia sebagai negara tetangga, sebegitu parahkah Indonesia yang tercinta ini
semoga tulisan ini salah, ini harapan ku
